Tugas
terbesar orang tua adalah menghantarkan anak menjadi manusia yang mengerti
tujuan hidup, untuk apa dia diciptakan dan bagaimana dia mengenalkan dengan tuhannya. Selain itu
juga tak kalah penting lagi adalah memberikan sebuah pendidikan bagi
anaknya. Keberhasilan anak juga tergantung pada orang tuanya, bagaimana
ketlatenan dan keuletan dalam mendidik anak.
Karena orang tua ini adalah sekolah yang pertama (al madrosatul ula)
artinya sebelum si anak belajar kepada orang lain tentu orang tua yang harus
memberikan pembelajaran terlebih dahulu. Dalam mewujudkan anak yang sholih dan sholikhah tidak semudah membalikan
telapak tangan atau hanya sekedar angan - angan, tentunya dengan melalui
beberapa proses. Posisi orang tua disini adalah sebagai cerminan pada anak, ketika menginginkan anak yang baik, maka
orang tua harus berproses menjadi uswah yang baik kepada anaknya.
Dalam
upaya itulah sering kali orang tua berusaha agar kelak anak -anaknya menjadi
anak yang sholih dan solikhah. Sering kali melakukan riyadhoh misalnya, puasa
senin kamis, membaca surah – surah pilihan, menghatamkan Al-Qur’an,
melaksanakan sholat sunnah tahajut dan amalan-amalan lainya. Hal ini di lakukan
semata–mata hanya berharap supaya anaknya menjadi anak yang taat kepada Allah
swt dan menjadi anak yang patuh kepada orang tuanya. Dalam mewujudkan hal
tersebut ada beberapa aspek pendidikan yang dilakukan orang tua salah satunya diantaranya memberikan pendidikan aqidah pada usia dini.
Ketika
sang anak telah lahir, orang tua tak henti-hentinya untuk mendoakan dan
memberikan pendidikan. Pendidikan pertama yang diberikan adalah pengenalan
kalimah tauhid, yang biasa di lakukan pada orang tua khusunya bapak adalah
mengadzani telinga kanan dan meng iqomahi telinga kiri. Sesuai yang diajarakan
oleh Rosululloh saw:
“Aku
melihat Rosululloh saw mengumandangkan adzan ditelinga hasan ibn ali saat baru
dilahirkan oleh ibunya,Fatimah” (H.R Abu Daud)
Mengadzani
anak baru lahir memiliki pengaruh terhadap kecerdasan otak merupakan stimulus
spiritual pertama kali yang di inginkan oleh seorang bayi. Dengan
mengumandangkan adzan di telinga kanan dan iqomah ditelinga kiri orang tua
berharap yang paling pertama di dengar bayi adalah panggilan untuk menyembah
Allah. nah ini yang membentuk karakter anak yang menjadikan ketaatan kepada
Allah swt.
Selain
mengumandangkan adzan mengandung aspek aqidah, juga mengandung aspek ibadah.
Sebab dalam adzan mengandung seruan untuk mendirikan sholat ( حى على الصلاة) ” marilah mendirikan sholat”
seruan
ini diharapkan akrab ditelinga anak dan merasuk dalam hati sehingga kelak ia dewasa dapat dengan
mudah di didik untuk mendirikan sholat. Persoalan ibadah ini menjadi perhatian
nabi Ibrahim a.s memohon kepada Allah swt agar anaknya tetap mendirikan sholat.
Sesuai firman Allah swt :
رب
اجعلنى مقيم الصلوة ومن ذريتى ربنا وتقبل دعاء
Artinya : Ya Tuhanku, jadikanlah Aku dan
anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya Tuhan kami,
perkenankanlah doaku.
Kewajiban
yang lain bagi orang tua dalam mendidik anak menurut madzab As’ariyah
adalah mengenal Allah swt dan mengakuiNya.
Allah berfirman kepada nabi Muhammad saw.
فاعلم انه لا اله الا
اللهُ واستغفرْ لذنبكَ وللمؤمنينَ والمؤمناتِ والله يعلم متقلَّبكم ومثوَاكم.
Maka
Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada AIlah (sesembahan, Tuhan) selain Allah
dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki
dan perempuan. dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu
tiinggal.(Q.S Muhammad:19)
Dalam penjelasan ayat diatas dapat kita aplikasikan bahwa dalam menanamkan keimanan harus
ada pengakuan hati tentang mengesakan Allah SWT. Ilmu ini wajib hukumnya atas setiap orang dan tidak bisa di
tinggalkan bagi siapa pun juga, bahkan semua orang sangat memerlukannya. adapun
cara mengimani Allah swt diantaranya adalah merenungkan nama – nama Allah (asma wa sifat) dan
sifat wajib bagi Allah dan sebagai manusia harus yakin bahwa Allah adalah dzat
yang maha sempurna, tidak ada kekurangan sedikitpun terhadap diri Allah. Dan
keyaninan kepada Allah ini diwujudkan melalui mengakui ( ikhror) dengan
lisan dan membenarkan dengan hati. Mengetahui bahwa hanya Allah sendiri yang
menciptakan dan mengatur, sehingga dengan demikian akan diketahui hanyalah Allah SWT semata-semata
yang berhak disembah.

Mantap Mas
BalasHapus