HADITS NABI
TENTANG TAUHID
(Studi Kritik Sanad dan Matan atas
Hadits riwayat Imam Bukhārī dari Ibnu Abbās)
A. Pendahuluan
Tauhid merupaka pertama kali yang
diajarkan dalam agama Islam. Tauhid merupakan dasar manusi dalam beriman. Maka
dari itulah tauhi menempati posisi pertama dalam rukun islam.
Dalam hadis Nabi dikatakan:
حَدَّثَنَا أَبُو مَعْمَرٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ
حَدَّثَنَا حُسَيْنٌ الْمُعَلِّمُ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بُرَيْدَةَ عَنْ
يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا
أَنْتَ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالْإِنْسُ يَمُوتُونَ
Dalam makalah singkat ini, penulis
akan melakukan kajian terhadap hadits diatas. Kajian tersebut meliputi Takhrīj
al-Hadīts, I’tibār al-Sanād, Kritik Sanad (Naqd al-Sanad),
dan Kritik Matan (Naqd al-Matn). Harapan penulis, kajian
sederhana ini dapat bermanfaat bagi semua yang berkenan membacanya. Amiin!
B.
Takhrīj al-Hadīts
Sebagai tahap awal dalam kegiatan
penelitian sanad maupun matan hadits adalah dengan melalui Takhrīj al-Hadīts,
yaitu sebuah penelusuran dan pencarian hadits dari berbagai kitab sebagai
sumber asli dari hadits yang bersangkutan, yang mana didalam kitab tersebut
dikemukakan secara lengkap matan dan sanad hadits yang bersangkutan.[1]
Dengan kegiatan Takhrīj al-Hadīts ini dapat diketahui asal-usul riwayat
hadis yang akan diteliti, berbagai periwayat hadis yang meriwayatkan hadis
tersebut, dan ada atau tidaknya corroboration (baca: syāhid dan mutābi`)
dalam sanad hadis yang sedang diteliti tersebut. Kemudian menjelaskan
derajatnya jika diperlukan.[2]
Setelah dilakukan Takhrīj
al-Hadīts, hadits yang diriwayatkan Imam Bukhārī dari Ibnu Abbās di atas
diketahui bersumber dari:
1. Muslim, Bab:
al-Dzikr wa al-Du`a wa al-Taubah wa al-Istighfar, no. 4894
2. Ahmad, Bab:
Wa Min Musnad Bani Hasyim, no. 2612
Berikut ini teks hadis berdasar Takhrīj
al-Hadīts secara lengkap:
1. Hadis
riwayat Imam Muslim:
Shahih Muslim, Bab: al-Dzikr wa al-Du`a wa
al-Taubah wa al-Istighfar, no. Hadis 4894
حَدَّثَنِي
حَجَّاجُ بْنُ الشَّاعِرِ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرٍو أَبُو مَعْمَرٍ
حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ حَدَّثَنِي ابْنُ بُرَيْدَةَ
عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ
آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ اللَّهُمَّ
إِنِّي أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَنْ تُضِلَّنِي أَنْتَ
الْحَيُّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالْإِنْسُ يَمُوتُونَ
2. Hadis
riwayat Ahmad bin Hanbal:
Musnad Ahmad bin Hanbal, Bab: Wa Min Musnad Bani
Hasyim, no. hadis 2612
حَدَّثَنَا
عَبْدُ الصَّمَدِ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا حُسَيْنٌ حَدَّثَنَا ابْنُ
بُرَيْدَةَ قَالَ حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ يَعْمَرَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ اللَّهُمَّ لَكَ
أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ
خَاصَمْتُ أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَنْ تُضِلَّنِي أَنْتَ
الْحَيُّ الَّذِي لَا تَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالْإِنْسُ يَمُوتُونَ
C.
I’tibār al-Sanad
Menurut bahasa, al-I`tibār
adalah peninjauan terhadap berbagai hal dengan maksud untuk dapat diketahui
sesuatunya yang sejenis. Sedangkan menurut menurut istilah ilmu hadis, al-I’tibār
berarti menyertakan sanad-sanad hadis yang lain atas suatu hadis tertentu,
yang mana hadis tersebut pada bagian sanadnya tampak hanya terdapat seorang
periwayat saja; dan dengan menyertakan sanad-sanad yang lain tersebut akan
dapat diketahui apakah ada periwayat lain atau tidak.[3]
Jadi, kegunaan al-I’tibār adalah
untuk mengetahui keadaan sanad hadis seluruhnya dilihat dari ada atau tidak
adanya pendukung (corroboration) berupa periwayat yang berstatus syāhid
atau mutābi`. Syāhid adalah periwayat yang berstatus pendukung
untuk sahabat Nabi, sedangkan mutābi adalah periwayat yang berstatus
pendukung pada periwayat yang bukan sahabat Nabi.[4]
Dalam kegiatan I’tibār ini, untuk lebih memperjelas
dan mempermudah maka dibantu dengan menggambar sebuah skema periwayatan hadits.
Adapun skema periwayatan tersebut dapat dilihat pada bagian lampiran.
Setelah dilakukan I’tibār melalui
penggambaran skema hadits, langkah selanjutnya adalah mencari periwayat yang
berstatus sebagai Syāhid dan Muttabī’. Dalam penelitian hadis
riwayat Bukhari dari Ibnu Abbas ini, peneliti tidak menemukan adanya Syāhid.
Sedangkan mengenai muttabī’¸ peneliti menemukan adanya dua kelompok muttabī’.
Pertama, Abu Ma`mar, yang merupakan periwayat kedua (tingkat tabi`it tabi`in)
hanya memiliki satu muttabī’, yaitu Abdus Shamad.yang merupakan
periwayat kedua dari jalur Ahmad bin Hanbal. Muttabī’ kedua adalah Ahmad
bin Hanbal dan Hajjaj bin Yusuf, keduanya merupakan muttabī’ dari
Bukhori yang merupakan mukhārij hadits.
Demikianlah mengenai syāhid
atau mutābi` dalam hadits riwayat Bukhari ini. Dilihat dari skema sanad
hadis tersebut, dapat dikatakan bahwa melihat pada thabaqat pertama
sampai thabaqat kelima, hadits riwayat Bukhari ini termasuk kategori Hadits
Gharīb, karena hadis ini diriwayatkan oleh hanya satu orang.[5]
Sedangkan jika melihat dari thabaqat selanjutnya, karena terdapat dua
orang atau lebih dalam masing-masing thabaqat, maka hadis ini termasuk
hadis `Azīz.[6]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar