Rabu, 07 Juni 2017

Hadis tauhid



HADITS NABI TENTANG TAUHID

(Studi Kritik Sanad dan Matan atas Hadits riwayat Imam Bukhārī dari Ibnu Abbās)

A.    Pendahuluan
Tauhid merupaka pertama kali yang diajarkan dalam agama Islam. Tauhid merupakan dasar manusi dalam beriman. Maka dari itulah tauhi menempati posisi pertama dalam rukun islam.
Dalam hadis Nabi dikatakan:
حَدَّثَنَا أَبُو مَعْمَرٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ حَدَّثَنَا حُسَيْنٌ الْمُعَلِّمُ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بُرَيْدَةَ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالْإِنْسُ يَمُوتُونَ
Dalam makalah singkat ini, penulis akan melakukan kajian terhadap hadits diatas. Kajian tersebut meliputi Takhrīj al-Hadīts, I’tibār al-Sanād, Kritik Sanad (Naqd al-Sanad), dan Kritik Matan (Naqd al-Matn). Harapan penulis, kajian sederhana ini dapat bermanfaat bagi semua yang berkenan membacanya. Amiin!

B.     Takhrīj al-Hadīts
Sebagai tahap awal dalam kegiatan penelitian sanad maupun matan hadits adalah dengan melalui Takhrīj al-Hadīts, yaitu sebuah penelusuran dan pencarian hadits dari berbagai kitab sebagai sumber asli dari hadits yang bersangkutan, yang mana didalam kitab tersebut dikemukakan secara lengkap matan dan sanad hadits yang bersangkutan.[1] Dengan kegiatan Takhrīj al-Hadīts ini dapat diketahui asal-usul riwayat hadis yang akan diteliti, berbagai periwayat hadis yang meriwayatkan hadis tersebut, dan ada atau tidaknya corroboration (baca: syāhid dan mutābi`) dalam sanad hadis yang sedang diteliti tersebut. Kemudian menjelaskan derajatnya jika diperlukan.[2]
Setelah dilakukan Takhrīj al-Hadīts, hadits yang diriwayatkan Imam Bukhārī dari Ibnu Abbās di atas diketahui bersumber dari:
1.    Muslim, Bab: al-Dzikr wa al-Du`a wa al-Taubah wa al-Istighfar, no. 4894
2.    Ahmad, Bab: Wa Min Musnad Bani Hasyim, no. 2612
Berikut ini teks hadis berdasar Takhrīj al-Hadīts secara lengkap:
1.  Hadis riwayat Imam Muslim:
Shahih Muslim, Bab: al-Dzikr wa al-Du`a wa al-Taubah wa al-Istighfar, no. Hadis 4894
حَدَّثَنِي حَجَّاجُ بْنُ الشَّاعِرِ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرٍو أَبُو مَعْمَرٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ حَدَّثَنِي ابْنُ بُرَيْدَةَ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَنْ تُضِلَّنِي أَنْتَ الْحَيُّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالْإِنْسُ يَمُوتُونَ

  2.  Hadis riwayat Ahmad bin Hanbal:
Musnad Ahmad bin Hanbal, Bab: Wa Min Musnad Bani Hasyim, no. hadis 2612
حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا حُسَيْنٌ حَدَّثَنَا ابْنُ بُرَيْدَةَ قَالَ حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ يَعْمَرَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَنْ تُضِلَّنِي أَنْتَ الْحَيُّ الَّذِي لَا تَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالْإِنْسُ يَمُوتُونَ

C.     I’tibār al-Sanad
Menurut bahasa, al-I`tibār adalah peninjauan terhadap berbagai hal dengan maksud untuk dapat diketahui sesuatunya yang sejenis. Sedangkan menurut menurut istilah ilmu hadis, al-I’tibār berarti menyertakan sanad-sanad hadis yang lain atas suatu hadis tertentu, yang mana hadis tersebut pada bagian sanadnya tampak hanya terdapat seorang periwayat saja; dan dengan menyertakan sanad-sanad yang lain tersebut akan dapat diketahui apakah ada periwayat lain atau tidak.[3]
Jadi, kegunaan al-I’tibār adalah untuk mengetahui keadaan sanad hadis seluruhnya dilihat dari ada atau tidak adanya pendukung (corroboration) berupa periwayat yang berstatus syāhid atau mutābi`. Syāhid adalah periwayat yang berstatus pendukung untuk sahabat Nabi, sedangkan mutābi adalah periwayat yang berstatus pendukung pada periwayat yang bukan sahabat Nabi.[4] Dalam kegiatan  I’tibār  ini,  untuk lebih memperjelas dan mempermudah maka dibantu dengan menggambar sebuah skema periwayatan hadits. Adapun skema periwayatan tersebut dapat dilihat pada bagian lampiran.
Setelah dilakukan I’tibār melalui penggambaran skema hadits, langkah selanjutnya adalah mencari periwayat yang berstatus sebagai Syāhid dan Muttabī’. Dalam penelitian hadis riwayat Bukhari dari Ibnu Abbas ini, peneliti tidak menemukan adanya Syāhid. Sedangkan mengenai muttabī’¸ peneliti menemukan adanya dua kelompok muttabī’. Pertama, Abu Ma`mar, yang merupakan periwayat kedua (tingkat tabi`it tabi`in) hanya memiliki satu muttabī’, yaitu Abdus Shamad.yang merupakan periwayat kedua dari jalur Ahmad bin Hanbal. Muttabī’ kedua adalah Ahmad bin Hanbal dan  Hajjaj bin Yusuf, keduanya merupakan muttabī’ dari Bukhori yang merupakan mukhārij hadits.
Demikianlah mengenai syāhid atau mutābi` dalam hadits riwayat Bukhari ini. Dilihat dari skema sanad hadis tersebut, dapat dikatakan bahwa melihat pada thabaqat pertama sampai thabaqat kelima, hadits riwayat Bukhari ini termasuk kategori Hadits Gharīb, karena hadis ini diriwayatkan oleh hanya satu orang.[5] Sedangkan jika melihat dari thabaqat selanjutnya, karena terdapat dua orang atau lebih dalam masing-masing thabaqat, maka hadis ini termasuk hadis `Azīz.[6]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

WIFI GRATIS UNTUK SISWA SEKOLAH. ANSOR Ranting Tanjungsari

PIMPINAN Pusat Gerakan Pemuda (GP) Ansor meluncurkan program WiFi gratis untuk pelajar di tengah keprihatinan dampak covit-19. Banyak siswa ...